Beberapa hari ini, setiap pagi di ruang guru teman-teman (khususnya Ibu-ibu) ramai membicarakan film “Laskar Pelangi” sebuah film yang diangkat dari novel tulisan Andrea Hirata. Rupanya teman-teman terkesan setelah menonton film tesebut apalagi yang belum sempat membaca versi novelnya. Mereka begitu antusias sekali bercerita tentang tokoh Ibu Muslimah, Lintang, Ikal dan teman-temannya.
“ Saya salut masih anak SD harus naik sepeda sejauh itu ke tempat sekolahnya”, cerita seorang teman.
“Iya ya, sampai-sampai harus niunggu buaya lewat dulu baru dia bise melanjutkan perjalannya”, timpal yang lain.
“Bu Muslimah sabar banget meski dengan segala keterbatasan tapi dia tetap semangat ngajar anak-anak itu”. Bu Yanti menambahkanDemikian sekelumit perbincangan teman-teman yang saya tangkap pagi itu. Ternyata mereka menonton film tersebut dengan anak-anak dan keponakanya. Agar bisa menjadi inspirasi bagianak-anak bahwa dengan segala keterbatasan dan kekurangan ternyata bisa berhasil demikian kira-kira alasan orang tua mengajak nonton film tersebut.
Fenomena Film Laskar Pelangi hampir sama dengan film Ayat-Ayat cinta yang menembus angka di atas 2 juta penonton. Ke dua film tersebut sama-sama sebuah visualisasi dari novel yang laris. Yang satu bercerita tentang percintaan lintas budaya dan agama,yang lainya bercerita tentang kegigihan seorang anak dari pulau terpencil yang sukses, bisa kuliah di Universitas terkenal bahkan sampai mendapatkan beasiswa di Perancis. Bedanya yang satu fiktif dan satunya lagi nyata.
Ditengah kebanyakan film bertema horor dan drama komedi, kehadiran film Laskar Pelangi ini ternyata membawa nuansa baru dalam dunia perfilman negeri kita meskipun hasil adaptasi dari sebuah novel. Mengangkat cerita novel menjadi sebuah tema film adalah hal yang wajar dalam dunia perfilman Cinta di Kampus Biru yang kita kenal di tahun 70-an juga merupakan adaptasi dari sebuah novel dengan judul yg sama. Bahkan film-film holywood yang menjadi box office juga kebanyakan dari adaptasi novel, komik atau buku.
Khusus untuk laskar pelangi ini, saya pikir kita, khususnya yang berprofesi guru tidak hanya cukup membaca novelnya saja tapi juga “kudu” menontonnya. Paling tidak dengan cara visualisasi ini kita lebih bisa memahami dan mengerti pesan yang ingin disampaikan oleh penuisnya. Dan bisa menjadi inspirasi kita untuk lebih keras lagi memotivasi anak didik dalam menghadapi tantangan yang semaikin berat di masa -masa mendatang. Karena sesungguhnya tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan kerja keras.
sudhkah anda menonton film tersebut? jangan ketinggalan seorang SBY-pun ternyata menyempatkan untuk nonton film “Laskar Pelangi” ini.
Label: Opini
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar